Cara Atasi Mual Muntah Efek Samping Kemoterapi
Mual dan muntah merupakan salah satu efek samping kemoterapi yang paling umum dikeluhkan oleh pasien saat menjalani terapi anti-kanker. Perlu kita ketahui, mual adalah rasa tidak nyaman di daerah perut sehingga ada dorongan kuat untuk muntah. Sementara itu, muntah adalah kondisi ketika isi lambung keluar melalui mulut.
Memahami cara menangani keluhan ini sangat penting agar pasien tetap nyaman dan asupan nutrisi tubuh tetap terjaga selama masa pengobatan.
Daftar Isi
Kapan Mual dan Muntah Terjadi?
Keluhan ini dapat terjadi pada waktu yang berbeda-beda selama pengobatan kanker berlangsung. Berdasarkan waktu kemunculannya, mual dan muntah dibagi menjadi:
- Akut: Terjadi dalam 24 jam pertama setelah pengobatan dimulai.
- Tertunda (Lambat): Terjadi 1 hingga 7 hari setelah pengobatan.
- Antisipatif: Terjadi bahkan sebelum pengobatan dimulai. Jika Anda pernah mengalami mual sebelumnya, pemicu seperti bau, suara, atau suasana ruang perawatan dapat memicu mual sebelum terapi dimulai.
- Kronis: Berlangsung secara terus-menerus meskipun pengobatan telah selesai.
Mual dan muntah juga dapat diklasifikasikan berdasarkan seberapa efektif obat anti-mual bekerja pada tubuh pasien:
- Breakthrough Nausea and Vomiting: Mual dan muntah yang tetap terjadi dalam 5 hari setelah memulai pengobatan anti-mual.
- Refractory Nausea and Vomiting: Mual dan muntah yang tidak kunjung membaik meskipun sudah diberikan obat anti-mual.
Hal Penting yang Wajib Dilakukan
Walaupun terasa tidak nyaman, terdapat dua hal utama yang tetap harus dipaksakan oleh pasien selama masa penyembuhan:
- Cukupi kebutuhan cairan: Tetap usahakan untuk cukup minum agar tubuh terhindar dari dehidrasi.
- Jaga asupan nutrisi: Tetap harus ada asupan (intake) makanan yang masuk ke dalam tubuh.
Tips Menangani Mual dan Muntah Karena Efek Samping Kemoterapi
Berikut adalah beberapa penyesuaian gaya hidup dan pola makan yang dapat membantu mengurangi gejala mual dan muntah:
- Minum sedikit demi sedikit: Cairan yang bening biasanya lebih mudah ditoleransi oleh lambung, seperti air putih, jus apel, kaldu, atau teh.
- Makan dalam porsi kecil namun sering: Jangan biarkan perut kosong, karena perut kosong justru dapat menyebabkan mual terasa lebih berat.
- Pilih makanan hambar (tidak berbumbu tajam): Konsumsi makanan seperti bubur, biskuit, roti, kaldu, atau yogurt.
- Siasati dengan rasa asam: Mengonsumsi sedikit makanan asam seperti permen asam, acar, atau lemon terkadang efektif membantu mengurangi rasa mual.
- Atur suhu makanan: Makanlah dalam keadaan dingin atau suhu ruang agar aroma makanan tidak terlalu kuat dan memicu mual.
- Coba makanan beku: Makan es krim atau es loli bisa menjadi alternatif yang menyegarkan.
- Sediakan permen pereda mual: Konsumsi permen dengan aroma lemon atau mint untuk menghilangkan rasa tidak enak di dalam mulut.
- Pilih makanan tinggi kalori yang mudah ditelan: Misalnya puding, es krim, sorbet, yogurt, atau milkshake dalam porsi kecil.
- Hindari makanan pemicu: Jauhi makanan yang digoreng, terlalu berbumbu, dan berminyak. Hindari juga bau makanan atau minuman yang terlalu menyengat.
- Perhatikan lingkungan saat makan: Makanlah di tempat yang sejuk dengan ventilasi udara yang baik dan bebas dari bau yang mengganggu.
Catatan Penting: Pilihlah makanan yang terasa cocok dan menarik agar tubuh dapat menerimanya dengan lebih baik. Namun, sebaiknya hindari makanan favorit Anda. Hal ini bertujuan agar Anda tidak mengaitkan makanan favorit tersebut dengan rasa sakit atau mual setelah selesai menjalani pengobatan.
Apa yang Harus Dilakukan Setelah Makan dan Minum?
- Beristirahatlah dengan tenang sambil duduk tegak setidaknya selama 1 jam setelah makan.
- Berikan jeda waktu yang cukup antara waktu makan dengan waktu tidur Anda.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Terjadi Muntah?
- Jika Anda sedang berbaring di kasur, segera miringkan badan ke kanan atau ke kiri agar tidak tersedak.
- Segera minum obat anti-mual ketika rasa mual mulai muncul untuk mencegah terjadinya muntah.
- Usahakan untuk tetap rileks dan tarik napas secara perlahan.
- Alihkan perhatian dengan mendengarkan musik lembut, menonton TV, atau mengobrol dengan orang lain.
- Minta dokter untuk meresepkan obat anti-mual yang mudah dikonsumsi, seperti obat yang larut di mulut atau berbentuk permen.
- Tunggu sampai muntah benar-benar berhenti sebelum mencoba makan atau minum apa pun.
- Coba hisap potongan es atau jus beku yang dapat meleleh di mulut untuk membantu menambah asupan cairan secara perlahan.
Kapan Harus Segera ke Dokter atau IGD?
Segera hubungi dokter Anda atau kunjungi Instalasi Gawat Darurat (IGD) apabila Anda mengalami kondisi berikut:
- Tersedak oleh muntahan.
- Mual dan muntah berlangsung lebih dari 3 hari.
- Sama sekali tidak bisa minum obat.
- Keluhan tidak membaik meskipun sudah meminum obat anti-mual dan muntah.
- Tidak dapat minum cairan lebih dari 4 gelas, atau tidak bisa makan lebih dari 2 hari.
- Mengalami penurunan berat badan drastis (1–2 kg) hanya dalam waktu 1 hingga 2 hari.
- Urine berwarna kuning pekat dan jumlahnya menurun drastis.
- Muntah darah atau muntahan disertai bercak kecokelatan.
- Tubuh terasa sangat lemas dan tidak bertenaga.
- Disertai rasa sangat lemas, pusing berputar, dan tampak kebingungan.
- Kehilangan kesadaran (pingsan).
Sumber
- American Cancer Society. (n.d.). Managing nausea and vomiting. (Link)
- National Cancer Institute. (n.d.). Nausea and vomiting related to cancer treatment (PDQu00ae)u2013Patient version (Link)
- Mayo Clinic Staff. (n.d.). Chemotherapy side effects: A cause of nausea and vomiting? Mayo Clinic (Link)
- National Cancer Centre Singapore. (n.d.). Nausea and vomiting (Link)
Artikel ini merupakan materi edukasi dan bukan pengganti konsultasi, diagnosis, atau perawatan medis profesional. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter.
Artikel Terkait
Baca artikel kesehatan lainnya yang mungkin menarik bagi Anda
Promo Aktif
Penawaran terbaru yang masih berlaku untuk Anda.
